Pola Pikir Perjaka Desa Zaman Now

Hidup tentu penuh dengan cobaan bahkan rintangan yang tentunya perlu kita arungi. Tanpa beban dan rintangan akan menciptakan hidup ini hampa terasa los tanpa rasa. Lalu apa yang perlu dilakukan biar hidup lebih bermakna dan bermanfaat. Apakah mengikuti laju yang berjalan atau perlu merubah biar hidup terasa lebih hidup.

Era teknologi banyak muda mudi pada sibuk dengan selfie bahkan lalai sendiri tanpa menyoalkan kemana arah kehidupan ini. Melihat yang zaman now perjaka desa terkesan tidak menyoalkan itu. Mereka lebih kepada mengikuti arus mengalir tanpa merubah arah hidup menjadi lebih baik.

Hidup tentu penuh dengan cobaan bahkan rintangan yang tentunya perlu kita arungi Pola Pikir Pemuda Desa Zaman Now

Secara tidak sengaja, saya menanyakan pada salah seorang perjaka yang namanya dirahasiakan. Apa yang akan kau lakukan sesudah selesai sekolah tingkat atas (SMA). Ia menjawab menentukan kerja apa aja yang bisa ia lakukan. Selanjutnya saya juga bertanya. Apa kemampuan kau dengan latar belakang SMA?

Jawbannya sungguh unik. Yang penting tenaga insyaallah sanggup kerja. Menurut saya tanggapan yang super dan logis dengan latar pendidikan menengah atas. Saya simpulkan berarti perjaka ini mengandalkan otot bukan pikiran.

Melihat perkembangan desa, mulai dari sumber ekonomi sampai lahan pekerjaan. Maka, lebih ke pekerjaan turun menurun. Artinya kalau orang renta mereka pata pencaharian sawah, ladang, laut, dan gunung. Maka, secara tidak pribadi generasi terebut akan menggantikan posisi orang renta mereka.

Pola Pikir Yang Salah, Menurut Mereka Benar
Bicara sisi pendidikan, dari 100%, hanya 30% yang termotivasi untuk melanjutkan pendidikan, selebihnya ikut arus berjalan. Menurut mereka, pendidikan kurang menarik dan hanya membuang waktu selama melanjutkan pendidikan tingkat tinggi. Lulus Sekolah Menengan Atas lebih dari cukup yang penting bisa tulis baca.

Ada sisi baiknya kalau dibandingkan dengan yang sama sekali tidak tamat SMA. Akan tetapi lebih baik bisa menuntaskan sekolah tingkat tinggi ialah kuliah. Sebagai gosip perbedaan teladan pokir lulusan Sekolah Menengan Atas dengan lulusan Sarjana jauh lebih baik sarjana ialah terkait teladan pikir.

Mereka tentu tidak terpaku pada emosi semata, melainkan banyak cara bahkan wawasan yang bisa ia ambil dalam hal menyikapi masalah, menilai, bahkan bisa memberi solusi yang terbaik tanpa merugikan sebelah pihak. Itu merupakan salah satu kelebihan cara pikir sarjana.

Lalu bagaimana dengan mereka yang teladan pikir terlalu kaku? Inilah yang menjadi dilema muda mudi yang wawasannya rendah. Mengapa demikian? Tidak sanggup dipungkiri, ini disebabkan wawasan dan latar belakang pendidikan yang rendah.

Pola Pikir Pemuda Desa
Banyak perjaka desa yang daya pikir rendah bahkan tidak bisa merubah teladan kehidupan kearah yang lebih baik. Ini sangat terlihat terang ketika ada suatu masalah yang tidak bisa menyikapi dengan kepala cuek dan dewasa. Mereka lebih mengedepankan emosi.

Prinsip dan ego sangat kental dimana perjaka yang latar belakang pendidikan rendah. Ditambah lagi teladan pikir yang tanpa arah. Hal ini sangat saya rasakan dimana perjaka desa yang merupakan kawasan tinggal saya serba keterbatasan wawasan. Mereka lebih penting kepentingan pribadi dibandingkan umum, tanpa menyoalkan dampak negatif kedepan.

Banyak perjaka ikut ikutan tanpa menyoalkan masalah terjadi. Tanpa prinsip bahkan janji dengan apa yang dilakukan. Hal ini teringat pada suatu kejadian yang pernah berlomba lomba menciptakan sebuah program pesta dagelan yang efeknya berdamlak pada sendiri. Tujuannya sebagai pelajaran untuk sasaran. Namun, pesta dagelan tersebuat membawa musibah untuk perjaka itu sendiri

Nah, melihat apa yang terjadi inilah menciptakan saya berfikir kok bisa teladan pikir perjaka ini terlalu kaku dan aneh. Namun, itu lah cara mereka berpikir tanpa menyoalkan ini itu. Keunikan dan ajaib juga ikut terjadi pada cara mereka menyikapi masalah. Artinya bisa berbuat secara massal namun, hanya beberapa orang yang bertanggung jawab.

Disini saya juga bisa menyimpulkan bahwa kekompakan bisa dikatakan sangat berkurang. Pertanyaan dari saya mengapa itu terjadi? Kalau berdasarkan saya sih tok hanya keterbatasan wawasan dan pengetahuan. Oleh kerena itu, letak jauh berbeda teladan pikir lulusan Sekolah Menengan Atas dengan sarjana.

Kesimpulan dan Saran
Harapan saya khusus untuk perjaka dan juga mudi. Walaupun kalian tidak bisa menuntaskan pendidikan tingkat tinggi. Maka, jangan gampang betah di desa mu itu. Melangkah lah sejauh mungkin untuk mendapat ilmu pengetahuan serta wawasan di kota terdekat.

Dengan melangkah, maka wawasan dan pengalam tentu sudah bertambah, bahkan teladan pikir yang dulu kau anggap benar padahal salah tentu sudah sanggup membedakan yang benar dan yang salah. Untuk itu, mulai kini khusus kalian yang gres selesai Sekolah Menengan Atas dan masih muda melangkah untuk mencari wawasan di kawasan lain dan jangan suka betah di kawasan tanah lahir mu. Setelah mendapat itu, silahkan pulang atau.
Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "Pola Pikir Perjaka Desa Zaman Now"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close