Khusus Sarjana: Mudik Halaman Jangan Bawa Bahasa Toko

| Membaca judul tentu akan bertanya “kok bahasa toko” sih? Itulah yang akan menjadi bahasan dalam blog irman fsp ini. Mengapa harus dibahas? Hal ini menjadi isu yang hanya diperbincangkan, alasannya banyak yang lulusan sarjana mudik halaman sudah kaku dengan bahasa daerah. Maka dari, berdasarkan kami cocok dijadikan satu topik hangat hari ini. Alasan irman fsp menyebarkan isu ini, mengingat banyak sarjana yang sudah lupa dengan bahasa kawasan dan juga sedikit lebih berlagak intelek dalam berdiskusi dengan masyarakat setempat.

Hal ini, mungkin bagi mahasiswa yang gres menuntaskan pendidikannya, baik itu dari perguruan tinggi negeri maupun swasta, menjadi suatu kebiasaan sehingga terbawa ke arah lingkup desa. Perlu Anda ketahui, bahasa toko di desa tidak paham, bahkan mereka bisa berbalik tanya, apa yang sedang kau perbincangkan atau menjelaskan. Lucu kan, padahal kau sudah panjang lebar lo menjelaskan apa yang mereka tanyakan. Lalu siapa yang kurang berilmu dalam hal ini? kau sebagai lulusan sarjana atau masyarakat?

 Itulah yang akan menjadi bahasan dalam blog irman fsp ini Khusus Sarjana: Pulang Kampung Halaman Jangan Bawa Bahasa Toko

Jangan sombong dan egois dalam mempertahankan pendapat. Menurut irman fsp, terkait pertanyaan siapa yang bodoh. Maka, jawabannya ialah kau yang kurang berilmu yang tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu pada mereka sehingga mereka mengerti dan paham apa yang kau maksud. Kok bisa? Bukan nya kau sudah sarjana? Sarjana, paskasarjana, doktor, bahkan profesor sekalipun yang memakai bahasa toko ketika berinteraksi dengan masyarakat sehingga menciptakan mereka tidak mengerti dengan cara klarifikasi kamu, maka jawabannya kau bodoh. Untuk itu jangan bawa bahasa toko ke tempat asalmula menyerupai Desa.

Mengapa ini menjadi satu topik yang diperbincangkan di irman fsp? Karena, admin juga menyandang gelar sarjana dan tahu betul huruf masyarakat desa ketika berinteraksi dengan mahasiswa bahkan yang gres lulus perguruan tinggi. Sejauh ini, masih ada juga lulusan perguruan tinggi yang tidak mengakui kebodohan mereka sendiri ketika berinteraksi dengan masyarakat awam di desa. Mengapa demikian? Lulusan sarjana ini terlalu keenakan berbincang dengan bahasa akademis dan juga teoritis, sehingga menciptakan banyak masyarakat banyak bertanya.

Kok bisa banyak bertanya? Sementara sudah panjang lebar dijelaskan secara terperinci dan juga disertai dengan contoh. Tidak salah, namun jikalau ia jelaskan dengan gaya bahasa yang ia biasakan di kampus dengan kalangan mahasiswa dan dosen, maka sungguh sudah terang sekali dan tidak harus ditanyakan lagi alasannya sudah benar benar jelas. Lalu mengapa juga di kalangan masyarakat desa banyak yang resah dan tidak paham? Jawabannya, itulah dikarenakan banyak memakai bahasa toko.

Apa sih bahasa toko itu, dari tadi asik bahas bahasa toko. Lupa bang maaf.. sebenarnya, bahasa toko itu kata sebutan saja dari irman fsp. Namun, kata sebutan ini sering dipakai dalam kalangan masyarakat desa. Saat mereka tidak mengerti, kalangan sarjana ini menyalahkan masyarakat dengan mudah. Padahal ianya belum bisa mengintrospeksi diri, sehingga tahu dimana letak kegagalan dan kesalahan dalam interaksi sosial sehingga sanggup menciptakan masyarakat tidak mengerti.

Sebagai pola kecil: menyerupai bahasa konsolidasi, sosialisasi, kombinasi, interaksi, koordinasi, dan lain sebagainya tentu akan menciptakan masyarakat resah bukan? Contoh lainnya dari sektor pertanian: menyerupai nama pupuk yang sering dipakai oleh masyarakat desa, yakni urea, poska, organik dan lain sebagainya. Apa yang menjadi pertanyaan? Sebagai pola klarifikasi dari lulusan sarjana yang sering membawa bahasa toko yakni di bawah ini:

“bapak bapak yang kami cintai, tolong sedikit perhatian cara memakai pupuk/ baja pada tumbuhan tanaman sampai menciptakan tumbuhan ini subur yakni dibutuhkan kombinasi pupuk urea dengan pupuk organik”

Menurut Anda mengerti tidak dengan klarifikasi bahan memakai bahasa “kombinasi” pada masyarakat desa? Kami rasa tentu tidak paham. Lalu bagaimana juga semoga mereka lebih paham? Berikut contohnya:

“bapak bapak yang kami cintai, tolong sedikit perhatian cara memakai pupuk/ baja pada tumbuhan tanaman sampai menciptakan tumbuhan ini subur yakni dibutuhkan adonan pupuk sangkar dengan pupuk kimia menyerupai pupuk (sebutkan nama pupuk tersebut yang gampang dipahami dan sering disebut dalam kalangan masyarakat)”

Mengapa harus memakai bahasa yang gampang dipahami dan dimengerti? Agar cepat paham dan klarifikasi kita tidak sia sia. Maka dari itu, gunakan bahasa yang gampang dimengerti oleh masyarakat semoga Anda tidak dianggap kurang berilmu oleh mereka. Begitu juga dengan gaya bahasa lainnya, menyerupai koordinasi, konsolidasi, sosialisasi, dan sebagainya. Boleh Anda menggunakannya, namun lihat apa mereka mengerti dengan apa yang sudah Anda terangkan. Untuk itu, apa pun gaya bahasa yang Anda gunakan, sangat disarankan gunakan komunikasi yang baik dan gampang dipahami oleh orang lain.

Berkomunikasi dengan bahasa toko semoga lebih terlihat intelek sah sah saja. Namun, gunakan gaya itu pada tempatnya semoga cepat singkron dan nyambung. Lihat juga lingkungan Anda, apakah sudah mendukung gaya bahasa toko atau tidak. Sebagai tamat kata, apa pun gaya bahasa yang kau biasakan, maka sesuaikan dengan kemampuan komunikan di lingkungan Anda atau bisa menyesuaikan dengan masyarakat yang ada.
Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "Khusus Sarjana: Mudik Halaman Jangan Bawa Bahasa Toko"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close