Pemahaman Yang Sering Salah Menilai Kesuksesan Sarjana

| Tidak bisa dipungkiri, bahwa sebagai orang renta mengharapkan anaknya bisa menyandang gelar sarjana dimana ia kuliah. Tidak sanggup dipungkiri juga, sebagai sarjana tentu berkeinginan besar sanggup menciptakan kedua orang renta mereka tersenyum lebar. Akan tetapi, banyak kisah lainnya sesudah menyandang gelar sarjana, beban pun tiba tanpa diundang, mengingat kebahagiaan orang renta bisa melihat anaknya sanggup pekerjaan yang layak dan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang disandang.

Disini sering terjadi kesalahpahaman, yang menganggap bagi anak yang sanggup menuntaskan kuliah akan mendapat pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang menjadi dambaan orang renta ini tentu yang ada hubungannya dengan pemerintahan, menyerupai pegawai negeri sipil (PNS). Dan sebelum menjadi PNS, maka, sarjana ini dianggap gagal dan belum sukses. Dengan demikian, berbagai tantangan bagi individu yang gres menuntaskan pendidikannya di perguruan tinggi tinggi, akan menyimpan rasa yang sungguh luar biasa.

 bahwa sebagai orang renta mengharapkan anaknya bisa menyandang gelar sarjana dimana ia kuli Pemahaman Yang Sering Salah Menilai Kesuksesan Sarjana

Apa saja yang dirasakan oleh penyandang gelar sarjana yang gres selesai kuliah dan belum mendapat pekerjaan? Rasa itu adalah, tekanan, malu, dan beban yang tidak bisa dicurahkan pada siapa siapa melainkan mendapat pekerjaan sebagaimana pujian orang tua. Pekerjaan apa yang menjadi pujian orang tua? Yaitu pegawai negeri sipil (PNS). Kalau bukan itu, apa bukan pekerjaan? Tentu itu juga pekerjaan, namun, di mata mereka dan lingkungan Anda gagal dan belum sukses.

Beban Sarjana Yang Baru Selesai Kuliah
Rasa haru dan senang bagi individu yang gres menyandang gelar itu, tentu sangat senang seakan hari itu tidak banding dengan hari hari lainnya. Sanking senang dan senang untuk sehari itu yakni wisuda, seakan rasa lelah dan beban dari kiprah selesai bahkan tanggung jawab sebagai mahasiswa sudah lepas. Hari itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri tanpa bisa dibandingkan dengan hari lainnya.

Namun, kebahagiaan hari itu hanya bersifat sementara. Selanjutnya, akan tiba hari hari yang harus dihadapi sebagai gelar sarjana. Mungkin, tidak semua yang menyandang gelar sarjana itu mencicipi hal ini yaitu beban tanpa henti selama belum mendapat sesuatu yang bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Disini juga, hampir setiap orang renta yang mempunyai anak bergelar sarjana akan bisa mendapat pekerjaan sebagai pengabdi Negara, yakni pegawai negeri sipil (PNS).

Baca Juga: Manusia Sebagai Makhluk Sosial Yang Hidup Bermasyarakat

Tanpa PNS, seakan penyandang gelar sarjana belum sukses dan gagal dalam menyandang gelar. Rasa aib juga dirasakan oleh keluarga hanya lantaran menahan gengsi semata. Oleh alasannya ialah itu, beban ini lah yang dirasakan oleh penyandang gelar sarjana sebelum menjadi pengabdi Negara. Bagi mereka yang bisa mendapat pekerjaan yang sanggup dikatakan penghasilannya melebihi honor PNS, dimata orang renta bahkan lingkungan masyarakat, anaknya tetap saja belum sukses.

Rasa yang memberatkan ini, terkadang banyak diantara mereka yang gres bahkan yang sudah usang menuntaskan kuliah, akan mengurung diri dan tidak mau pulang ke kampung halaman dengan alasan belum mendapat pekerjaan yang layak. Sehingga mereka menentukan tinggal di kos atau kontrakan untuk menahan rasa beban yang ada. tujuan hanya satu yakni, mencari pekerjaan dan tetap menanti peluang sebagai abdi Negara. Hal ini terkadang bukan keinginan, melainkan paksaan batin yang dirasakan oleh mereka.

Pemahaman Yang Salah
Di sinilah, terkadang mereka menilai sarjana yang belum jadi PNS merupakan individu yang gagal dan belum sukses dalam mendapat pekerjaan. Bayangkan bagi mereka yang menyandang gelar sarjana, namun belum mendapat pekerjaan yang bisa menghasilkan sebagaimana diharapkan. Apa pendapat lingkungan untuk penyandang gelar sarjana ini? hal inilah yang menciptakan mereka beban dengan gelar yang ada. Selesai kuliah, ia mencari pekerjaan yang layak selama tidak dibuka pengumuman registrasi pegawai negeri sipil. Bahkan, ia pernah mencoba dimana ada lowongan pekerjaan, namun hanya belum berhasil untuk mendapat pekerjaan yang setimpal.

Di mata lingkungan dan orang tua, walaupun ia mendapat pekerjaan yang sudah menghasilakan, tetap belum sukses selama ia belum PNS. Timbul pertanyaan, apakah pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil itu sudah sukses? Memang, pekerjaan PNS itu serba gampang dan tidak membebankan. Namun, hidup dan kemewahannya terbatas dan bisa diukur. Namun demikian, dimata mereka tetap, PNS ialah pekerjaan yang sukses bagi sarjana.

Perlu diketahui, itu hanya pemahaman yang salah pada menilai kesuksesan seorang sarjana hanya mendapat pekerjaan sebagai abdi Negara. Padahal berbagai pekerjaan yang bisa mereka lakukan sampai sanggup menghasilkan diluar dugaan. Baik itu sebagai marketing, bekerja pada diri sendiri, bahkan bisnis yang sanggup menghasilkan uang. Sarjana tentu akan jauh berbeda dengan aliran yang levelnya sekolah menengah atas, apa lagi dengan orang yang hanya tamatan SMP.

Baca Juga: Proses Interaksi Sosial Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Walaupun, ada diantaranya tamatan SD bahkan Sekolah Menengah Pertama bisa menjadi sosok pemimpin dan pembisnis yang sukses, akan tetapi itu hanya satu dan dua orang saja dibandingkan dengan kesuksesan penyandang gelar sarjana bahkan setingkatnya. Hanya aliran itu yang menciptakan mereka terkadang bebang ketika mempertimbangkan, sebagai sarjana belum mendapat pekerjaan.

Kesimpulan
Sarjana tetap lebih dibandingkan degan mereka yang menyandang sekolah tingkat atas. Seorang sarjana pun akan jauh lebih berbeda dengan tingkatan di bawahnya, baik itu cara berbicara, bergaul, menanggapi pendapat, dan lain sebagainya. Untuk itu, kesuksesan seorang sarjana bukan semata mata menjadi abdi Negara, melainkan ia bisa menuntaskan problem dengan kepala dingin, mempunyai banyak ide, bisa hidup dilingkungan yang berbeda budaya, dan bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus menjadi PNS, bahkan banyak yang ia bisa tanpa diketahui orang lain.

Maka dari itu, jangan menilai hanya lantaran belum sukses selama tidak menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Karena banyak juga pekerjaan di luar sana yang bisa menghasilkan lebih dari pendapatan sebagai abdi Negara. Dan mulai kini mari merubah aliran yang salah terkait kesuksesan seorang sarjana ketika mendapat pekerjaan. Karena banyak diantara mereka yang menuntaskan sarjana tidak bekerja di instansi pemerintah, melainkan dengan adanya kemampuan yang dimiliki akan diandalkan pada daerah pekerjaan yang bisa membiayai tenaga mereka sesuai keahlian, menyerupai perusahaan perusahaan ternama.
Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "Pemahaman Yang Sering Salah Menilai Kesuksesan Sarjana"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close