8 Teori Komunikasi Persuasif

| Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku “Ilmu Komunikasi dalam Teori dan Praktek”. “Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris “Communications” berasal dari kata latin “Communicatio, dan bersumber dari kata “Communis” yang berarti “sama”, maksudnya yaitu sama makna. kesamaan makna disini yaitu mengenai sesuatu yang dikomunikasikan, alasannya yaitu komunikasi akan berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan atau dikomunikasikan. Suatu percakapan dikatakan komunikatif apabila kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan mengerti bahasa pesan yang disampaikan” (Effendy, 2005 : 9).

 Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku  8 Teori Komunikasi Persuasif
Teori komunikasi persuasif

Komunikasi persuasif merupakan bentuk komunikasi yang mepengaruhi komunikannya sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikatornya mungkin juga sanggup merubah sikap dari komunikannya, namun  pesan yang akan disampaikan komunikator kepada komunikannya harus menjadi hal besar yang perlu di perhatikan alasannya yaitu akan merubah sikap dan sikap komunikannya. Hal yang sanggup mempengaruhi dalam komunikasi persuasif diantaranya, komunikator, pesan, saluran, penerima.

Sebagaimana yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi dalam Teori dan Praktek Carl I. Hovland, “Komunkasi yaitu upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas- asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap”.

Berikut 8 bentuk komunikasi persuasif yang sanggup Anda ketahui sebagai berikut:
  1. The Bullet Theory atau Teori Peluru.
    Merupakan konsepsi pertama yang muncul, berkenaan dengan imbas komunikasi persuasif. Ia disebut pula dengan hypodermic – needle theory atau teori jarum hipodermik. Kadang -kadang di sebut pula transmision belt theory atau teori lajur transmisi. Dalam teori ini dibahas mengenai imbas pesan yang disalurkan melalui media massa, dan menyampaikan bahwa media massa itu ampuh untuk mengubah prilaku massa.
  2. The Limited – Effects Model.
    Menurut model imbas terbatas, komunikasi massa hanya memiliki imbas yang kecil saja terhadap khalayaknya. Hal ini dibuktikan melalui penelitian Hovland terhadap tentara. Hasil penelitian tersebut menawarkan bahwa imbas film hanya sanggup mentransmisikan informasi, ketimbang mengubah sikap khalayak, demikian pula penelitian Azarsfeld ihwal pemilihan umum, menawarkan bahwa kampanye melalui TV hanya sedikit mempengaruhi khalayak sasaran.
  3. Cultivation Theory.
    Gebner dan mitra – kawannya membuatkan theori ini dengan mengemukakan argumennya bahwa televisi telah menjadi tangan central kebudayaan di AS ia mengemukakan TV telah menjadi bab dari anggota keluarga yang terpenting yang selalu mengisi sebagian besar waktu yang ada.
  4. The Effects of Synthetic Experience.
    Teori ini berawal dari hasil peneliatian Funkhouser dan Shaw, 1990. Mereka menyampaikan bahwa gambar bergerak, televisi, dan komputer sanggup membentuk persepsi khalayak ihwal realitas, yaitu sanggup memanipulasi dan merencanakan kembali, tidak hanya isi, tetapi juga proses dari pengalaman berkomunikasi. Kesimpulannya yaitu bahwa media elaktronik menampilkan jenis pengalaman tiruan. Pengalaman tiruan tersebut apakah dalam hal warna, ihwal hal – hal yang menyimpang, dan lainnya telah menurunkan martabat insan dalam hal cara memandang terhadap kebudayaan  (Severin dan Tankard, 1992)
  5. The Spiral of Silence.
    Dikembangkan oleh Elizabeth Noelle Neumann mereka berargumen bahwa media massa memiliki imbas yang besar lengan berkuasa dalam opini public, alasannya yaitu merupakan sumber bagi seseorang dalam memperoleh informasi.
    Spiral kebisuan yang ditimbulkan media massa sanggup terjadi melalui hal – hal menyerupai audience yang membentuk pesan opini itu.
    a. Dominan
    b. Mengalami peningkatan
    c. Dapat dikeluarkan seseorang dalam publik tanpa membuatnya terisolasi
  6. Media Hegemony.
    Menurut teori ini wangsit – wangsit dari golongan yang berkuasa dalam suatu masyarakat merupakan wangsit – wangsit yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Menurut teori ini media massa merupakan alat pengontrol oleh golongan yang lebih banyak didominasi dalam suatu masyarakat, dan di pandang sebagai pembantu dalam memakai kontrol dari golongan tersebut pada seluruh masyarakat. ( Sallach, 1974).
  7. Effects of Television Violence.
    Kajian dan penelitian ihwal imbas kekerasan di yang ditimbulkan oleh TV berangkat oleh teory berguru sosial yang dikemukakan oleh Bandura. Teori berguru sosial berargumen bahwa orang cendrung untuk menjiplak prilaku yang diamatinya, stimuli menjadi contoh untuk prilaku (Rahmad, 1968)
  8. The Powerful Effects Model.
    Dikemukakan oleh Elizabet Noele Nouman 1973, teori ini memperkuat teori sebelumnya, spiral of silence. Teori ini beropini bahwa media massa sanggup mempengaruhi prilaku khalayak.

Demikian teori imbas komunikasi persuasif yang sanggup anda ketahui. 8 teori komunikasi persuasif ini sanggup anda pelajari kembali, jika anda belum mengetahui dan belum tahu terkait pengertian dan penjelasannya. Semoga dengan adanya klarifikasi dari sanggup mempermudahkan anda dalam mencari bahan perkuliahan.

Sumber:
Onong Uchjana Effendy, Prof, M.A (2003) Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung.
Deni Darmawan (2006) Teori Komunikasi, Bandung: Arum Mandiri Press.

Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "8 Teori Komunikasi Persuasif"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close