Berkampanye Melalui Media Elektronik

| Seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi maka hasil karya jurnalistik yang dikemas dalam media massa juga berkembang dari segi bentuk, cara menyajikan bahasa dll. Namun secara umum, karya jurnalistik atau media massa bisa dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk media cetak dan media elektronik. Media elektronik merupakan media yang memakai elektronik atau energi elektromekanis bagi pengguna tamat untuk mengakses kontennya.

 teknologi informasi dan komunikasi maka hasil karya jurnalistik yang dikemas dalam media  Berkampanye Melalui Media Elektronik

Istilah ini merupakan kontras dari media statis (terutama media cetak), yang meskipun sering dihasilkan secara elektronis tapi tidak membutuhkan elektronik untuk diakses oleh pengguna akhir. Sumber media elektronik yang familiar bagi pengguna umum antara lain yaitu rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia, dan konten dering. Media elektronik sanggup berbentuk analog maupun digital, walaupun media gres pada umumnya berbentuk digital.

Media Telepon
Media telepon merupakan alat komunikasi ekspresi satu-kepada-satu yang mempunyai beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Media ini kerap dipakai bagi hubungan pribadi jikalau organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana, mengarahkan pemilih untuk tiba ke daerah kampanye. Atau terkadang media telepon juga biasa dipakai untuk memperkenalkan kandidat melalui rekaman bunyi yang sanggup diputar berulang kali.

Telepon pun hingga ketika ini masih dipakai sebagai media survey perihal opini para pemilih; polling telepon, dengan memakai sistem pemutaran nomor secara acak disertai kuesioner pendek yang gampang dipahami; mekanisme utama survey.

Media Radio
Menurut McLuhan, terdapat resonansi antara radio dan indera pendengaran serta pikiran manusia, resonansi yang menyajikan peluang besar bagi kampanye radio. Di samping itu, radio juga merupakan saluran massa bagi kaum minoritas walaupun dalam perkembangannya kaum lebih banyak didominasi pun masih belum bisa meninggalkannya.

Pada masa Pilpres 2004 lalu, iklan radio pasangan kandidat dari tiap-tiap kandidat hampir luput dari perhatian. Namun, yang menarik untuk dicermati yaitu ketika PDI-P bisa menciptakan iklan politik yang terbilang “cerdas” dan manis dari segi persuasif. Iklan itu menciptakan sebuah percakapan antara pelaku yang berjulukan Emon (Mon), dan Acong (Cong), yang jikalau digabungkan menjadi Mon-Cong (putih); sebuah jargon PDI-P.

Media Televisi
Di Amerika, penggunaan televisi sebagai media kampanye sudah semenjak dasawarsa 1950-an dan 1960-an dimulai. Penekanan dalam kampanyenya pun beragam, mulai dari pembuatan citra; di mana penggunaan media ini untuk memproyeksikan atribut-atribut terpilih dari kandidat. Hingga pemfokusan berkembang pada tahun 1970-an menjadi pengaturan dan pembahasan pokok persoalan kampanye.


Teknik untuk membangun gambaran sang kandidat pun beragam, mulai dari melalui publisitas gratis (mengatur bencana kampanye untuk liputan berita, turut dalam debat televisi, dan lain sebagainya) hingga pada periklanan televisi yang mesti dibayar.

Sebenarnya sudah ada pengaturan perihal tata cara beriklan di media massa, terutama di televisi. Namun tetap saja banyak terjadi kecurangan di sana-sini, hingga terjadi ketidakadilan dalam peliputan informasi kampanye pada Pilpres 2004 yang lalu. Peliputan informasi kampanye pasangan kandidat tertentu menerima durasi yang relatif lebih panjang dibanding pasangan kandidat yang lainnya.

Hal ini dikarenakan pemilik stasiun televisi tersebut yaitu “orang dekat” dari pasangan tersebut. Atau bisa juga alasannya yaitu pasangan kandidat tersebut mempunyai dana kampanye yang cukup banyak untuk sanggup memasang iklan berlebih pada media tersebut.

Media Inovasi
Media penemuan di sini banyak ragamnya, diubahsuaikan dengan perkembangan jaman yang melingkupi Negara tersebut. Kampanye bisa dilakukan melalui media internet, handphone (SMS), Video/ Digital Compact Disc yang sanggup diputar di mana saja dan kapan saja, serta media penemuan lainnya yang senantiasa akan terus berkembang.

Kampanye Melalui Media Cetak
Meskipun media elektronik ditambah dengan media penemuan sudah semakin maju, tetap saja media cetak belum akan ditinggalkan khalayak massa. Terdapat dua tipe media cetak yang kerap dijadikan sebagai media kampanye, yakni melalui surat eksklusif dan surat kabar atau majalah. Surat Langsung.

Pada tahun 1974, Robin dan Miller menyelidiki efek pengiriman surat umum kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa, surat eksklusif tidak mempunyai cukup efek terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memperlihatkan bunyi dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat.

Kampanye Interpersonal
Hubungan tatap muka terdiri atas tiga jenis. Yang pertama ialah penampilan pribadi yang dilakukan oleh kandidat (atau istrinya, kerabat dekat, dan juru bicara utama) dalam setting yang relatif informal. Kedua, kandidat membina itikat baik dengan tokoh-tokoh lokal, Negara bagian, dan yang mempunyai nama nasional. Ketiga, adanya orang-orang yang dengan sukarela melaksanakan anjangsono selama kampanye; mereka mengunjungi setiap rumah di setiap distrik untuk kepentingan kandidat.

Hal ini biasa dilakukan oleh kandidat manapun. Pada Pilpres 2004 lalu, kerap kita dengar bahwa pasangan kandidat tertentu mendatangi pesantren-pesantren, ulama-ulama guna memohon doa restunya. Padahal, sesudah kampanye itu berakhir kunjungan ke sana pun urung untuk dilakukan.

Kampanye Organisasi
Dalam aktivitas kampanye, banyak organisasi turut serta. Mulai dari (1) organisasi kampanye, (2) ragam organisasi kepentingan khusus yang menduduki posisi, membantu dana dan sumber daya lainnya, mengarahkan anggota, dan memperlihatkan tekanan kepada calon pejabat: serikat buruh, asosiasi perusahaan, kelompok agrikultur, organisasi hak sipil.

Lobby konsumen, pecinta lingkungan, dan lain sebagainya, (3) kelompok penyokong yang dipakai untuk memperlihatkan kesan menerima pinjaman rakyat yang luas melebihi barisan partisan, pegawai, dan etnik, serta para juru kampanye politik, hingga yang terakhir (4) organisasi utama yakni partai politik itu sendiri. Saluran komunikasi partai terdiri atas kantor partai khusus dan hubungan partai dengan para pemilih.

Kesimpulan
Apa pun salurannya (atau teknologinya, apakah lisan, cetakan, atau elektronik), makna mengalir bukan dari saluran, melainkan tercipta dalam pikiran penerima. Apa pun yang disampaikan melalui saluran (bahkan keheningan) yaitu pesan potensial jikalau orang menemukan makna di dalamnya.

Ini tidak berarti bahwa maksud pesan komunikator dan pemilihan saluran itu tidak penting, tetapi bahwa pesan yang diterima itulah yang penting, dan bahwa maksud komunikator itu penting jikalau memengaruhi cara orang menyusun makna dari pesan yang disampaikan.

Dengan demikian maka proses penyusunan makna berafiliasi dengan makna yang dimaksudkan dan makna yang diterima. Hal ini mempunyai tanggapan yang menonjol pada bentuk organisasi sosial, persepsi individu, gambaran yang kita rumuskan, bagaimana kita saling menghendaki, mengidentifikasi gambaran diri kita, dan menemukan kepuasan dalam hubungan kemanusiaan, dan bagaimana organisasi pemerintah menciptakan keputusan dan memberlakukannya.

Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "Berkampanye Melalui Media Elektronik"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close