7 Prinsip Dalam Teori Organisasi Klasik

- Teori klasik sendiri merupakan merupakan tinjauan perihal teori-teori umum dalam administrasi organisasi. Dan yang sering dikaitkan dengan sudut pandang klasikal yaitu model organisasi birokrasi. Teori organisasi secara sistematis gres dikembangkan pada tahun 1850 di sini timbul sesuatu pemikiran yang mempersoalkan bagaimana mengatur kekerabatan antara susunan organisasi itu dan mengatur cara kerjanya sehingga dalam suatu organisasi sanggup bekerja se efisien dan semaksimal mungkin.

Organisasi sendiri sanggup diartikan sebagai ´merencanakan bentuk umum daripada perjuangan dengan mengingat tujuan-tujuan usaha, cara-cara melaksanakan perjuangan sebagai mana bisa diramalkan “. Di dalam organisasi niscaya ada sebuah tujuan yang bersifat kolektif atau pekerjaan kolektif yang disetiap bab di atur atau di integrasikan dari pekerjaan perseorangan.

sendiri merupakan merupakan tinjauan perihal teori 7 Prinsip Dalam Teori Organisasi Klasik

Di dalam teori klasik mempunyai beberapa prinsip-prinsip dam konsep, yang dipakai sebagai pikiran pokok dalam mengatur sebuah organisasi antara lain sebagai berikut:
  1. 1. Prinsip Hieraki ( SCALAR PRINCIPELE )
    Prinsip ini yaitu dasar dari pemikiran teori-teori klasik. Bahwa dalam suatu organisasi harus ada wewenang dan tanggung jawab yang dijalankan oleh pimpinan tertinggi dan hingga hingga pada tingkat bawah atau personal yang bertugas sebagai pelaksana. Di sini peranan pimpinan sangat diharapkan guna mengatur sistem kerja organisasi semoga pekerjaan sanggup terarah dan terorganisir. Dengan memakai prinsip ini kita sanggup semakin terang mengetahui antara kekerabatan tanggung jawab dan kewenangan dari yang paling bawah hingga pada pimpinan yang tertinggi.
  2. Prinsip Kesatuan Komando
    Prinsip ini menekankan bahwa sebaiknya dalam suatu organisasi hanya ada satu atasan saja yang memperlihatkan komando kepada bawahan supaya ada kesatuan komando dan koordinasi yang seragam sehingga tidak menciptakan bawahan menjadi bingung. Tetapi hal ini ditentang oleh Frederick Taylor dalam pendapatnya yang bertajuk “Functional Foreman” yang berisi “Bahwa setiap bawahan mengenai aspek yang sama dari pekerjaannya hanya boleh tunduk pada satu atasan langsung.”.
    Dalam menyikapi dua hal yang berbeda ini kita sebaiknya sanggup membagi pekerjaan menjadi lebih spesifik lagi dan di dalamnya terdapat seorang koordinator yang bertanggung jawab atas segala sesuatu hal yang terjadi di dalamnya. hal ini akan sanggup mengurangi kesalahpahaman yang terjadi dalam organisasi tersebut yang diakibatkan oleh tumpang tindihnya perintah dari atasan.
  3. Prinsip Pengecualian ( EXCEPTION )
    Demi efisiensi pekerjaan semua hal yang sanggup dikerjakan oleh bawahan yang sudah menjadi rutinitas diharapkan sanggup eksklusif dikerjakan tanpa harus menunggu perintah dari atasan. Dengan di terapkanya prinsip ini dalam organisasi atasan tidak perlu lagi mencampuri urusan pekerjaan bawahan sehingga akan menghasilkan efisiensi kerja.
  4. Prinsip Jangkauan Pengawasan Yang kecil
    Demi efisiensi waktu dan pekerjaan sebaiknya bawahan yang melapor dan mendapatkan perintah dari atasan jumlahnya sedikit. Dari prinsip ini bisa dipahami bahwa dengan banyaknya bawahan yang mendatangi atasan maka pekerjaan atasan akan lebih tersita apalagi jikalau isi laporan dan perintah itu sama. Akan lebih baik jikalau ada pembagian kerja siapa saja yang harus melapor dan mendapatkan perintah dan lalu orang-orang itu menjelaskan pada yang lain. Peranan seorang koordinatorlah yang sangat di butuhkan di sini alasannya koordinator mempunyai dan di berikan wewenang yang lebih besar.
  5. Prinsip Jangkauan Terbatas
    Dikatakan bahwa dalam suatu pengawasan yang dilakukan atasan hendaknya ada batasan. Hal ini dimungkinkan bahwa kemampuan seseorang sangatlah terbatas antara lain: terbatasnya waktu, kekuatan fisik, kesanggupan apakah seorang atasan akan sanggup secara terus menerus sanggup mengontrol pikiran atau cara kerja seorang bawahan.
    Tetapi prinsip ini tidak terang alasannya tidak disebutkan secara niscaya batasan-batasan itu. Walaupun prinsip ini sudah dihilangkan oleh para penentang Teori Klasik alasannya tidak ada dasar angka teoritis namun prinsip ini mempunyai kelebihan untuk memperlihatkan batasan kepada atasan dalam mengawasi bawahan semoga tidak terjadi hal semena-mena yang dilakukan atasan.
  6. Prinsip Sepesialisasi
    Untuk mencapai efisiensi kerja dalam melaksanakan fungsi-fungsi dalam organisasi, maka diharapkan pembagian kerja yang sistematis berdasarkan keahlian tap-tiap pribadi. Hal ini akan dapt semakin memaksimalkan hasil dan prestasi pekerjaan yang dicapai.
  7. Prinsip Pemakaian Pusat Keuntungan Di Dalam Organisasi
    Sebagai teladan misalnya, seorang pendiri General Motor, Alfred Sloan, menyampaikan bahwa dalam mengorganisir produksi kendaraan beroda empat yang paling menguntungkan yaitu mengorganisasi produksi berdasarkan merk. Yang dimaksud yaitu jikalau tiap bab dari instansi masing-masing mempunyai fasilitas-fasilitas untuk bersaing dengan bab lain maka akan memoivasi tiap bab untuk menjadi yang terbaik sehingga sanggup meningkatkan kualitas kerja.

Setiap kepala divisi atau koordinator di beri wewenang / tanggung jawab yang penuh atas kinerjanya sehingga secara psikologi mereka akan terdorong untuk menghasilkan hasil yang maksimal dan mereka dituntut untuk berani mengambil keputusan serta mempertanggung jawabkanya.


Melihat disini Organisasi telah di jadikan suatu obyek atau alat untuk memecahkan dan merencanakan suatu perkara kita di tuntut semoga sanggup bagaimana cara menganalisa, lalu mengatur cara-cara pekerjaan setiap pekerjaan yang harus dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan semoga kita sanggup melaksanakan efisiensi pekerjaan dalam arti menghilangkan gerakan-gerakan atau pekerjaan yang bahu-membahu tidak perlu.

Aspek ini banyak pertanda teori-teori khusus yang dikenal dengan nama "time and motion study" atau penelitian perihal gerak dan waktu yang tujuanya tidak lain yaitu untuk menemukan cara yang sebaiknya untuk melaksanakan pekerjaan itu. Dengan "time and motion study" banyak melahirkan teknik dan praktek-praktek dalam organisasi, menyerupai termasuk menganalisa pekerjaan, analisa perihal kelancaran pekerjaan, (work – flow analysis), scheduling, plan lay – out

Ada juga orang yang mengkhususkan pada perkara yang lain yaitu menganalisa perkara bagaimana mendefinisikan pekerjaan yang gres dilakukan lalu membaginya dalam aneka macam kelompok dan bagaimana cara mengkoordinasikan diantara setiap bagaian tersebut sehingga berada di bawah satu koordinasi. Atau biasa disebut dengan “Departementalization“ pembagian pekerjaan.


Konsep klasikal itu sendiri juga mengalami ekspansi susunan struktur pembagian kerja. Diantaranya yaitu bentuk horizontal dan vertical. Horizontal, di dalam setiap organisasi terdapat tingkatan – tingkatan pekerja bukan hanya tingkatan berdasarkan pekerjaan. Sedangkan vertical disini akan terjadi pembagian pekerjaan yang lebih kecil dari organisasi dan lalu disatukan untuk menjadi suatu kesatuan yang utuh.

Para penulis teori organisasi aliran klasik pada umumnya menspesialisasikan menjadi empat prinsip dasar untuk mencapai sistem pembagian kerja dan wewenang yang optimal. Hal ini sanggup anda ketahui yakni di bawah ini:
  1. Pertama, spesialisasi hendaknya berdasar pada target kiprah yaitu para pekerja yang mengerjakan sub-tujuan yang sama dikumpulkan pada bab yang sama. Hal ini baik dilakukan sehingga para pekerja tidak terganggu dengan tujuan lain atau sub-kerja yang lain.
  2. Kedua, pekerjaan yang mengharuskan adanya proses tertentu hendaknya dikelompokkan jadi satu.
  3. Yang ketiga yaitu spesialisasi berdasarkan klien, untuk menangani kelompok klien tertentu harus ditempatkan pada satu bab yang sama, contohnya devisi yang menangani perkara keuangan mereka harus berorientasi pada bab keuangan itu sendiri sehingga tidak akan ada percampuran pekerjaan yang akan berimbas pada suatu organisasi.
  4. Keempat, pekerjaan yang dilakukan di kawasan geografis yang sama sebaiknya dikumpulkan menjadi satu.
Demikian prinsip dalam teori organisasi klasik yang juga merupakan bahan terori komunikasi organisasi. Pada jurusan ilmu komunikasi tentu akan anda temui bahan organisasi klasik. Namun, pada kesempatan ini bahan ini sekilas sengaja kami paparkan untuk memudahkan anda dalam pembelajaran.

Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "7 Prinsip Dalam Teori Organisasi Klasik"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close