Kelayakan Dan Seni Administrasi Pengembangan Perjuangan Kelompok Budidaya Ikan

Kelayakan dan taktik perjuangan kelompok | Indonesia merupakan negara maritim dengan panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia sehabis Kanada. Dengan panjang garis pantai sekitar 18.000 km dan jumlah pulau lebih dari 17.508 buah. Indonesia mempunyai sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat berlimpah, baik dari jumlah maupun spesies. Sumber daya tersebut merupakan aset nasional yang diharapkan bisa mensejahterakan masyarakat di sekitar wilayah pesisir.

Pada perkembangannya, hingga dikala ini potensi tersebut belum bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir, pembudidaya dan pengolah ikan. Pendekatan pembangunan sebaiknya beriorientasi pada pendekatan pembangunan berkelanjutan, holistik dan berbasis pada masyarakat (Dahuri, 2002).

 Indonesia merupakan negara maritim dengan panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia  Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha Kelompok Budidaya Ikan

Tanpa filosofi berkelanjutan, maka pembangunan tidak akan memakmurkan kehidupan. Pengembangan investasi di sektor budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan diharapkan akan sanggup memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan, serta pengembangan wilayah pedesaan.

Berkembangnya investasi di suatu wilayah sangat tergantung dari potensi dan kemampuan sumber dayanya menyerupai akomodasi infrastruktur, pendanaan, teknologi, sumber daya insan (SDM) dan sistem tata niaga komoditas agribisnis/agroindustri di wilayah tersebut. Selain itu, penciptaan iklim perjuangan yang aman bagi pengembangan investasi di bidang budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sangat diharapkan bagi pengembangan sektor perikanan berkelanjutan.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perjuangan pada umumnya ialah permodalan, baik untuk investasi maupun modal kerja. Pihak perbankan dikala ini masih penuh keraguan untuk membiayai perjuangan semacam ini, dikarenakan belum adanya catatan (track record) dari setiap perjuangan pembudidayaan yang dikembangkan oleh masyarakat, menyerupai catatan pengalaman membudidayakan ikan dan catatan keuangan, baik untuk penjualan, tabungan ataupun pembuatan planning usaha.

Tantangan utama yang dihadapi dalam rangka pengembangan perjuangan mikro dan kecil ialah modal atau investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), serta sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Indonesia yang masih relatif ketinggalan dalam penguasaan Iptek mutakhir dan juga kekurangan modal pembiayaan pembangunan, terang belum mempunyai keunggulan komparatif pada sektor ekonomi berbasis pada Iptek dan padat modal.

Sehubungan dengan itu, pembangunan ekonomi Indonesia harus dititikberatkan pada pembangunan sektor-sektor ekonomi yang berbasis pada sumber daya alam (SDA), padat tenaga kerja dan berorientasi pada pasar domestik. Pada dikala ini perkembangan industri perikanan darat memperlihatkan hasil yang menggembirakan.

Hal ini memperlihatkan bahwa prosepek perjuangan budidaya ikan sanggup berkembang dengan baik. Ikan nila yang banyak dibudidayakan di kawasan Bogor mempunyai perkembangan produksi yang baik dengan kenaikan setiap tahun 39,98% dan mempunyai prospek untuk dikembangkan lebih jauh.

Keberhasilan perjuangan budidaya ikan nila dipengaruhi oleh efisiensi dan produktivitas lahan. Sedangkan produktivitas lahan sangat erat kaitannya dengan konstruksi kolam pemeliharaan yang kuat terhadap ketersediaan ait. Kendala utama dalam pengembangan budidaya ikan nila di Indonesia ialah ketersediaan benih di tingkat pembenihan.

Permasalahannya terletak pada mutu benih yang dihasilkan, ketepatan waktu dan ketepatan ukuran serta pasokan benih yang berkesinambungan. Salah satu penyebabnya ialah bahwa pasokan benih selama ini masih dihasilkan dari petani pembenih yang pengelolaan benihnya masih secara tradisional dan tidak bersiklus dengan baik (DKP, 2004b).

Kegiatan pembudidayaan dan pengolahan ikan skala kecil dan rumah tangga sudah dilakukan dengan baik oleh masyarakat Indonesia di beberapa daerah. Data memperlihatkan bahwa kegiatan ini berpotensi menjadi sumber mata pencaharian yang sanggup dipercaya apabila dikelola secara profesional.

Untuk membuatkan ke arah perjuangan yang lebih profesional, selalu dihadapkan pada hambatan internal maupun eksternal. Beberapa hambatan yang sering dihadapi oleh pembudidaya, pengolah dan pemasar ikan ialah lemahnya modal, jalan masuk terhadap pasar, kurangnya pendidikan dan training serta pengetahuan yang terbatas. Dampak dari kelemahan ini ialah pembudidaya, pengolah dan pemasar ikan skala kecil dan rumah tangga terkesan belum merupakan suatu bisnis yang menguntungkan (DKP, 2006 b).


Untuk memperkuat dan membuatkan skala perjuangan mikro dan kecil perjuangan perikanan, secara garis besar terdapat 3 (tiga) kebijakan dan taktik pokok yang sanggup dilaksanakan, yaitu:
  1. Menciptakan sistem perjuangan yang aman (condusive business climate) dan sekaligus menyediakan lingkungan yang bisa (enabling environment) mendorong pengembangan perjuangan mikro secara sistematis, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan berkelanjutan.
  2. Menciptakan sistem penjaminan (guaranteƩ system) secara finansial terhadap operasionalisasi kegiatan perjuangan mikro.
  3. Menyediakan pinjaman teknis dan pendampingan (technical assistance and facilitation) secara manajerial guna meningkatkan status perjuangan mikro semoga layak sekaligus bankable dalam jangka panjang (DKP, 2006 b).

Sejak tahun 2004, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah melaksanakan aktivitas replika Skim Modal Kerja (SMK) melalui ujicoba pada 9 Kelompok Pembudidaya Ikan hias, konsumsi dan tumbuhan hias air tawar di 6 kabupaten, yaitu Belitung, Bogor, Wonosobo, Semarang, Sleman dan Gunung Kidul (DKP, 2004 a).

Program penyediaan kredit modal yang terintegrasi dengan peningkatan kapasitas administrasi pembudidaya ikan diharapkan untuk mengangkat potensi pembudidaya ikan skala rumah tangga dan perjuangan kecil menengah berbasis pada kelompok semoga kelompok sanggup meningkatkan produksi, baik mutu maupun kuantitas. Selain memperlihatkan pinjaman permodalan, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan pembudidaya ikan dengan pendampingan dan training (DKP, 2004 a).

Modal yang dibutuhkan oleh pembudidaya ikan sangat tergantung dari jenis perjuangan budidaya dan sistem pembudidayaan ikan. Dilihat dari Tabel 2, maka dibutuhkan modal yang cukup banyak untuk sanggup membuatkan perjuangan budidaya ikan nila, yaitu budidaya yang selama ini dijalankan oleh kelompok tani ikan Mekar Jaya.

Sebelum terpilih sebagai kelompok yang diberikan kredit Sekolah Menengah kejuruan oleh DKP, setiap kelompok diharuskan mengajukan dan mengisi formulir pengajuan pinjaman dan ringkasan proposal planning usaha. Setelah disetujui, maka kelompok terlebih dahulu membuka rekening atas nama kelompok untuk mendapatkan dana Sekolah Menengah kejuruan dari DKP. Salah satu kelompok yang memperoleh aktivitas Sekolah Menengah kejuruan ialah Kelompok Tani Ikan Mekar Jaya (KTIMJ) yang berlokasi di Lido, Bogor.

Program implementasi Sekolah Menengah kejuruan merupakan langkah strategis untuk membina, memberdayakan, membangun dan membuatkan potensi lokal dalam masyarakat untuk turut serta dalam memperlihatkan bantuan produksi perikanan nasional secara makro. Pendekatan kelompok dalam pelaksanaan aktivitas ini ialah untuk meningkatkan pengawasan pada level yang paling bawah. Penguatan permodalan dalam aktivitas Sekolah Menengah kejuruan ini dilakukan dengan basis kelompok. Pengelompokan atau pengorganisasian pembudidaya ikan diharapkan sanggup meningkatkan produktivitas dan efisiensi pembudidaya.

Meskipun aktivitas ini telah direncanakan dan dilaksanakan di beberapa Kabupaten dengan matang dan disertai dengan pembinaan dari sentra dan daerah, akan tetapi dalam prakteknya upaya untuk mengangkat derajat pembudidaya/pengolah ikan skala kecil dan rumah tangga sering dihadapi dengan hambatan yang menyebabkan aktivitas ini tidak sanggup terealisasi dengan baik.

Kendala yang dihadapi KTIMJ dalam melaksanakan aktivitas SMK, diantaranya ialah berada pada faktor teknis menyerupai ekosistem lokasi budidaya, materi baku produksi, potensi pemasaran, potensi ikan yang akan dibudidayakan dan potensi pembudidaya ikan lainnya. Kendala lain ialah faktor non teknis menyerupai disiplin anggota untuk melaksanakan pencatatan perjuangan masih belum optimal dan sulit mengumpulkan anggota kelompok untuk diadakan pembinaan.

Sumber http://www.irmanfsp.com/
Show comments
Hide comments

0 Response to "Kelayakan Dan Seni Administrasi Pengembangan Perjuangan Kelompok Budidaya Ikan"

Post a Comment

Blog ini merupakan Blog Dofollow, karena beberapa alasan tertentu, sobat bisa mencari backlink di blog ini dengan syarat :
1. Tidak mengandung SARA
2. Komentar SPAM dan JUNK akan dihapus
3. Tidak diperbolehkan menyertakan link aktif
4. Berkomentar dengan format (Name/URL)

NB: Jika ingin menuliskan kode pada komentar harap gunakan Tool untuk mengkonversi kode tersebut agar kode bisa muncul dan jelas atau gunakan tool dibawah "Konversi Kode di Sini!".

Klik subscribe by email agar Anda segera tahu balasan komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close